Sabtu, 05 Januari 2013

Konsep Ilmu Budaya Dasar


I. Konsep Ilmu Budaya Dasar
Sebelum kita mulai tentang isi dari Konsep Ilmu Budaya Dasar, mari kita artikan satu persatu dari kata kata tersebut. Pertama kita mulai dari konsep. Dari wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Konsep merupakan abstrak, entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu entitas, kejadian atau hubungan. Pengertian Konsep sendiri adalah universal di mana mereka bisa diterapkan secara merata untuk setiap extensinya. Konsep juag dapat diartikan pembawa arti. Sedangkan secara sederhana Ilmu Budaya Dasar adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Jadi, konsep ilmu budaya dasar adalah pengertian, tujuan, termauk juga dengan ruang lingkup ilmu budaya dasar.
1.1 Pengertian Ilmu budaya dasar
Ilmu Budaya Dasar, dalam bahasa Inggris disebut Basic Humanities merupakan pengetahuan yang diharapkan dapat memberi pengetahuan dasar dan umum tentang konsep-konsep yang dapat digunakan untuk mengkaji maalah-masalah manusia dan kebudayaan. Masalah manusia tidak dapat dipisahkan dari masalah budaya atau pengetahuan budaya yang juga disebut sebagai humaniora. Humaniora adalah ilmu pengetahuan yang bertujuan membuat manusia menjadi lebih manusiawi (humanior), dalam pengertian manusia lebih berbudaya.
Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof. Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam 3 kelompok besar yaitu :
1. Ilmu-Ilmu Alamiah (Natural Scince)
Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta, untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah, caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas, hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan, atas dasar ini lalu dibuat prediksi. hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah.
2. Ilmu-Ilmu Sosial (Social Scince)
Ilmu-ilmu sosial berjuang untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan atara manusia, untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilm-ilmu alamiah, tapi hasil penelitiannya tidak 100 5 benar, hanya mendekati kebenaran, sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia ini tidak dapat berubah dari saat ke saat.
3. Pengetahuan budaya ( the humanities )
Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pemyataan-pemyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Peristiwa-peristiwa dan pemyatan-pemyataan itu pada umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan., Metode ini tidak ada sangkut pautnya dengan metode ilmiah, hanya mungkin ada pengaruh dari metode ilmiah.
Pengetahuan budaya ( The Humanities ) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup kcahlian (disiplin) scni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang kcahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dll. Sedang Ilmu Budaya Dasat ( Basic Humanities ) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain Ilmu Budaya dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Inggris disebut dengan Basic Humanities. Pengetahuan budaya dalam bahasa inggris disebut dengan istilah the humanities. pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk betbudaya ( homo humanus ), sedangkan Ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.



1.2  Tujuan Ilmu Budaya Dasar
1.      Mengenal dirinya sendiri maupun orang lain yang sebelumnya lebih dikenal luarnya saja.
2.      Mengenal perilaku diri sendiri maupun orang lain
3.      Sebagai bekal penting untuk pergaulan hidup
4.      Perlu bersikap luwes dalam pergaulan setelah mendalami jiwa dan perasaan manusia serta mau tahu perasaan manusia
5.      Tanggap terhadap hasil karya manusia secara lebih mendalam sehingga lebih peka terhadap masalah-masalah pemikiran perasaan serta perilaku manusia dan ketentun yang diciptakannya
6.      Memiliki penglihatan yang jelas pemikiran yang mendasar serta mampu menghargai budaya yang ada disekitarnya dan ikut mengembangkan budaya nenek moyang dan leluhur kita yang luhur nilainya
7.      Tidak jatuh kedalam sifat-sifat kedaerahan dan kekotaan

1.3 Ruang Lingku Ilmu Budaya Dasar
1.      Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yng dapat didekati dengan menggunakan pengetahuaan budaya, baik dari segi masing-masing keahlian didalam pengethuan budaya, maupun secara gabungan berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya
2.      Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing zaman dan tempat.

Kedua Pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD (Ilmu Budaya Dasar), nampak jelas bahwa manusia menepati posisi sentral dalam pengkajian.

Sumber :

Peran Orang Tua dan Lembaga Pendidikan dalam Menangani Perilaku Pelajar atau Mahasiswa yang Semakin Anarkis

 Pendidikan dalam keluarga sangat penting sebagai landasan dasar yang membentuk karakter anak sejak awal. Peran orang tua tidak hanya sebatas menanamkan norma-norma kehidupan sejak dini. Mereka harus terus berperan aktif, terutama pada saat anak-anak menginjak usia remaja, di mana anak-anak ini mulai mencari jati diri. Sedangkan lembaga pendidikan berperan dalam  pembentukkan karakter, pembimbing  pelajar atau mahasiswa saat berada diluar rumah, atau saat berada di lingkungan sekolah maupun kampus.

A.    Contoh Kasus

                                       Empat Hari, Tiga Tawuran Pelajar di Jakarta    

TEMPO.CO, Jakarta - Selama empat hari terakhir, Kepolisian Daerah Metro Jaya mencatat ada tiga aksi tawuran antarpelajar di DKI Jakarta. Bentrokan pertama terjadi saat sejumlah pelajar SMAN 70 menyerang para pelajar SMAN 6 di Bulungan, Jakarta Selatan. Aksi yang terjadi Senin, 24 September 2012, pecah pada pukul 12.10.

Dalam bentrokan ini dua pelajar SMAN 6 mengalami luka-luka. Sedang satu pelajar tewas, yaitu Alawi Yusianto. Polisi sudah menangkap satu pelaku utama berinisial FR, pelajar kelas XI SMAN 70.

Selang dua hari, tawuran kembali terjadi di Jalan Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan. Kali ini melibatkan para pelajar dari SMA Yayasan Karya 66 (Yake) dan SMK Kartika Zeni. Kembali satu pelajar tewas dengan luka bacok di perut atas nama Deni Yanuar, siswa kelas XII SMA Yayasan Karya 66 (Yake). Tak lama usai bentrok, polisi meringkus pembacok dari SMK Kartika Zeni berinisial AD.

Masih di hari yang sama namun di tempat terpisah, bentrok antarpelajar pecah di Jalan Komodor, Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Susilo, 15 tahun, murid kelas X SMK Mahardhika, diserang dua pelajar SMK. Kendati terkena sabetan celurit, nyawa Susilo bisa diselamatkan saat dibawa ke Rumah Sakit UKI, Cawang.

Juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menegaskan polisi akan menindak tegas pelaku tawuran. Bila pelaku di bawah umur, polisi tetap akan memproses. "Perlakuannya saja yang berbeda kalau pelaku masih di bawah umur," kata dia di Mapolda, Kamis, 27 September 2012.

Berdasarkan data dari Polda Metro Jaya, dari Januari hingga September 2012, tercatat ada sembilan kasus tawuran yang melibatkan pelajar. Sebanyak empat kasus terjadi di Jakarta Selatan, dua kasus di Jakarta Timur, dan satu kasus masing-masing terjadi di Jakarta Pusat, Depok, dan Bekasi.



B.     Saran

Orang tua mesti senantiasa menjaga komunikasi, keharmonisan keluarga serta membentengi mereka dengan pendidikan agama yang benar. Melalui tiga cara ini, orang tua dapat memberikan contoh teladan yang baik bagi anaknya. Dengan adanya teladan yang baik di rumah, mereka akan lebih tidak mudah terpengaruh untuk terlibat dengan aktivitas yang bersifat anarkis.
Menanamkan pengertian bahwa pelaku kekerasan termasuk tindakan pidana yang bisa dijatuhi sanksi hukum. Dan semua sekolah sudah memiliki nomor telepon polisi yang berwenang menangani tawuran. Masyarakat pun perlu mengetahui nomor polisi pengaduan apabila terjadi atau akan terjadi tawuran antar pelajar. Perlu juga polri dan pihak sekolah mewajibkan para pengajar dan pelajar memasukkan nomor telepon polisi di ponsel masing-masing. Tampaknya, sistem demikian belum ada

Peran Manusia dalam Melestarikan Budaya atau Kesusastraan



 A.    Pengertian Kesusastra

Sastra (Sanskerta: hastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Karya sastra pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi antara sastrawan dan masyarakat pembacanya. Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisahan, dan amanat yang dikomunikasikan kepada pembaca. Untuk menangkap ini, pembaca harus mampu mengapresiasikannya. Pengetahuan tentang pengertian sastra belum lengkap bila belum tahu manfaatnya. Horatius mengatakan bahwa manfaat sastra itu berguna dan menyenangkan. Secara lebih jelas dapat dijelaskan sebagai berikut.

1.      Karya sastra dapat membawa pembaca terhibur  melalui berbagai kisahan yang disajikan pengarang mengenai kehidupan yang ditampilkan. Pembaca akan mendapatkan pengalaman batin dari berbagai tafsiran  terhadap kisah yang disajikan
2.      Karya sastra dapat memperkaya jiwa/emosi pembacanya melalui pengalaman hidup para tokoh dalam karya.
3.      Karya sastra dapat memperkaya pengetahuan intelektual pembaca dari gagasan, pemikiran, cita-cita, serta kehidupan masyarakat yang digambarkan dalam karya.
4.      Karya sastra mengandung unsur pendidikan. Di dalam karya sastra terdapat nilai-nilai tradisi budaya bangsa dari generasi ke generasi. Karya sastra dapat digunakan untuk menjadi sarana penyampaian ajaran-ajaran yang bermanfaat bagi pembacanya.
5.      Karya sastra dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan atau penelitian tentang keadaan sosial budaya masyarakat yang digambarkan dalam karya sastra tersebut dalam waktu tertentu.
B.     Peran Kita Untuk Melestarikan Kebudayaan atau Kesusastraan

Banyak contoh bahwa kesusastraan dan kebudayaan kita sudah mulai hilang akibat masukan dari budaya luar yang tidak kita filter  terlebih dahulu. Contohnya saja sastra lisan, sastra lisan merupakan fakta mental yang menggambarkan mimpi-mimpi, cita-cita, aspirasi, keinginan, harapan, keluh-kesah,dan sebagainya yang kesemuanya merupakan sistem  pengetahuan masyarakat. Masyarakat pemiliknya mentransmisikan sastra lisan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, agar kandungan sastra lisan itu terintemalisasikan sebagai pedoman bagi hidup mereka dalam menyikapi tantangan kehidupan.

Kita mempunyai peran yang sangat penting untuk melestarikan budaya dan sastra yang kita punya dengan cara :
a.       Pemerintah:
1.      Pemerintah harus lebih memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan – kebudayaan bangsa   Indonesia ke negara – negara lain     lewat iklan di media-media elektronik maupun media cetak.
2.      Membuat pameran – pameran khusus untuk produk – produk dalam negeri saja.
3.      Membuat acara pergelaran kebudayaan Indonesia di negara sendiri maupun di negara lain.

b.      masyarakat
1.      Bisa menyaring budaya-budaya asing yang masuk dan ambil hal-hal positif yang bisa memajukan budaya dan sastra yang tinggi.
2.      Karena kita adalah generasi muda dan sebagai penerus bangsa, tanamkan rasa cinta kepada tanah air.
3.      Menerapkan meggunakan Bahasa Indonesia dalam kegiatan sehari-hari.
4.      Membawa bahasa dan budaya nasional menjadi bahasa dan budaya yang patut  menjadi salah satu bahasa dan budaya internasional.
5.      Orang tua juga berperan sangat penting memberikan pengarahan kepada anaknya tentang penrtingnya kebudayaan dan sastra yang ada di Indonesia.
6.      Saling menghormati dan menghargai antara sesama masyarakat walaupun berbeda agama dan suku bangsa.

Banyak sekali faktor-faktor yang menghambat usaha melestarikan kesusastraan dan kebudayaan. Hambatan-hambatan itu antaralain :
a.       Arus Globalisasi
Arus globalisasi yang menganut kebebasan dan keterbukaan begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat, terutama berpengaruh terhadap perilaku generasi muda.Hal ini ditunjukkan dalam cara hidup mereka sehari-hari. Misalnya, dari cara berpakaian mereka berdandan seperti selebriti yang cenderung ke budaya barat, menggunakan pakaian minim bahan, hingga memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak terlihat. Tentu saja hal tersebut tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.

b.      SDM Kurang Berkualitas
Upaya pelestarian budaya bangsa ditengah pesatnya arus globalisasi tentunya memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, kreatif dan inovatif, namun kurangnya keinginan dan sarana pembelajaran menjadikan ketersediaan SDM sangat terbatas.

c.       Orientasi Ekonomi Jatah Pendek
Keterbatasan biaya dalam pelestarian budaya masih menjadi hambatan yang cukup berat, penerpan teknologi maju memerlukan penanaman modal yang besar, menggandeng investor menjadi salah satu pilihan namun tidak sedikit investor yang tidak peduli dengan persoalan pelestarian budaya, yang penting bagi mereka modal yang telah ditanam harus cepat kembali dan mendatangkan keuntungan materi yang optimal.


d.      Keterbatasan Lingkungan
Penggunaan teknologi tidak hanya membutuhkan modal besar, namun juga membutuhkan sumber daya alamnya, hal tersebut tentu saja menimbulkan eksploitasi terhadap lingkungan, mempercepat proses global warming. Perubahan lingkungan alam yang sangat berpengaruh terhadap kebudayaan.


Manusia mahluk Berbudaya

A.    Pengertian Budaya
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebnarnya berasal dari bahasa sanksekerta budhayah yaitu bentuk jamak  kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris , kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda diistilahkn dengan kata cultuur, dalam bahasa Latin, berasl dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkn, mengembangkan tanah (bertani).
B.     Pengertian Manusia
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

C.    Manusia Sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan

Tercipta atau terwujudnya suatu kebudayaan adalah sebagai hasil interaksi antara manusia dengan segala isi alam raya ini. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia , namun manusia itu sendiri adalh produk dari kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena ada manusia penciptanya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya.

Kebudayaan mempunyai kegunan yang sangat besar bagi manusia. Berbagai macam kekuatan harus dihadapi manusia dan masyarakat seperti kekuatan alam dan kekuatan lain. Selain itu manusia dan masyarakat memerlukan kepuasan spiritual maupun material. Kebutuhan – kebutuhan tersebut dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.


Sebagai contoh :
1.      Alam Takambang Jadi Guru
Alam takambang jadi guru ini artinya alam yang terbentang jadi guru atau pelajaran. Pepatah ini sering dinasehatkan oleh orang tua suku Minang kepada anaknya. Kalimat ini mengandung makna semua yang ada di alam ini bisa menjadi pelajaran. Kalimat alam takambang jadi guru ini berdasarkan pengembangan ayat dari kitab suci yang menyuruh membaca. Hal ini membuat orang Minang menjadi kreatif membaca peluang yang tampak dan tersirat. Orang Minang yang mempelajari gejala lingkungan menjadi kreatif menjemput peluang. Karena nasehat dari kalimat ini orang Minang banyak yang berhasil menjadi pengusaha sukses, walaupun dasar pendidikan akademik mereka tidak begitu tinggi. Mengapa bisa? karena orang Minang menganggap pendidikan itu penting. Tapi pendidikan tidak harus dari sekolah. Sebab alam dan pengalaman hidup menjadi guru terbaik bagi kesuksesan orang Minang. Hal ini juga yang membuat suku Minang bisa mengambil pelajaran dari sebuah kegagalan.

2.      Turun Mandi
Tradisi turun mandi atau dalam bahasa lain disebut “bacungak” ini sudah menjadi sebuah tradisi yang turun temurun dan bahkan sudah ratusan tahun yang lalu yang dilakukan kepada bayi yang baru lahir. Tujuan dari turun mandi atau bacungak ini untuk “meresmikan” si bayi ini dan ibu bayi ini untuk bisa mandi ke sungai dan keluar rumah dengan “bebas” yang sebelumnya karena bayi masih kecil dan ibunya masih dalam proses pemulihan tidak diperbolehkan keluar rumah ataupun pergi mandi ke sungai.


 Kebudayaan dan manusia sangatlah berpenggaruh dan tidak dapat dipisahkan karena dengan adanya Budaya kita dapat mengetahui tata cara berkehidupan yang bermoral atau berperilaku yang baik entah dengan diri sendiri,keluarga, maupun  orang –orang yang ada di sekitar kita.
Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan. Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar.