Selasa, 17 Maret 2015

Psikoterapi - 2

Sebelumnya saya sudah sedikit membahas mengenai pengertian, tujuan dan unsur-unsur dari psikoterapi. Sekarang saya akan berbicara mengenai psikoterapi dan konseling. Apa sih perbedaan dari psikoterapi dan konseling? Penasaran? Kita akan bahas itu sebentar lagi. Lalu saya juga akan membahas mengenai pendekatan terhadap mental illness dan bentuk utama terapi..

Yok kita mulai !
A. Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
Pertama kita akan membahas Perbedaan dari psikoterapi dan konseling, ditulisan pertama saya sudah bahas dan akan saya ingatkan kembali bahwa psikoterapi adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah - masalah yang dasarnya emosi, dimana seseorang yang terlatih dengan saksama membentuk hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan, memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang terhambat serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan positif dari kepribadiannya (Wolberg dalam Gunarsa, 2007)

Sedangkan konseling merupakan proses wawancara tatap muka antara dua orang (konselor dan klien) yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada klien, sehingga klien dapat memecahkan masalahnya dan lebih berkembang dalam kehidupan sekarang dan masa depannya. Menurut British Association of counseling (dalam Mappiare, 2004), konseling merupakan suatu proses bekerja dengan orang banyak, dalam suatu hubungan yang bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah.

Adapun perbedaan Konseling dan Psikoterapi disimpulkan oleh Pallone (1977) dan Petterson (1973 yang dikutip oleg Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut :
1.      Konseling untuk Klien sedangkan Psikoterapi untuk Pasien
2.      Konseling untuk gangguan yang kurang serius sedangkan Psikoterapi untuk gangguan serius
3.      Konseling berhubungan dengan pencegahan sedangkan Terapi dengan pengobatan
4.      Konseling berhubungan dengan non medis sedangkan Terapi dengan medis
5.      Konseling berhubungan dengan kesadaran sedangkan Psikoterapi dengan ketidaksadaran
  
B. Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illnes
  1. Psychoanalysis dan psychodynamic : Berfokus terhadap mengubah masalah prilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadarnya untuk mendapat solusi.
  1. Behavior therapy :Berfokus dalam hukum pembelajaran. Perilaku seseorang akan di pengaruhi proses pembelaaran seumur hidup tokohnya adalah ivan Pavlov yang menemukan teknik classical conditioning assosiative learning. Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asossiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi).
  1. Congnitive therapy : Congnitive theraphy dalah penyebab difungsi pikiran dan menyebabkan difungsi prilaku. Tokohnya Albert Ellis dan Aron Back. Tuuan utama pendekatan kognitif adalah mengubah pola pikir dengan cara mengubah meningkatkan kesadaran dalam pola pikir rasional, metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan cognitive adalah collaborative empiricism, guide discovery.
  1. Humanistic therapy : Pendekatan humanistic therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri setiap manusia dengan keunukannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu dalam terapi humanistic, seseorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja bukan mengarahkan perubahan.
  1. Integrative therapy: Apabila seseorang klien mengalami komplikasi gangguan psikologis yang namanya tidak cukup bila ditangani dengan satu metode psikoterapi saja.

Nah, yuk yang terakhir dari tulisan ke-2 ini saya kan membahas tentang bentuk - bentuk terapi
C. Bentuk-Bentuk Terapi
  1. Terapi psikoanalisis, teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yg berlawanan dan agresif dari I’d, serta teknik yang dilakukan dengan cara menggali permasalahan atau pengalaman dimasa lalu dan dorongan yang tidak disadari.
  2. Terapi humanistik, teknik dengan pendekatan fenomologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesungguhnya.
  3. Person centered therapy, tekniknya terpusat pada pribadi dengan memberikan suasana aman, bebas agar klien mengeksplorasi dengan nyaman.
  4. Logo terapi (Frankl), bentuk penyembuhan melalui penemuan-penemuan makna dan pengembangan makna hidup, lebih dikenal dengan therapy through meaning.
  5. Analisis Transaksional (Berne), teknik Analisis Transaksional dilakukan bahwa setiap transaksi dianalisis, klien nampaknya menggelakkan tanggung jawab yang diarahkan untuk mau menerima tanggung jawab pada dirinya sehingga klien dapat menyeimbangkan Egogramnya serta melakukan intsrospeksi terhadap “games” yang dijalaninya.
  6. Rational Emotive Therapy (Ellis), tekniknya dengan melakukan disputing intervention (meragukan/ membantah) terhadap keyakinan dan pemikiran yang tidak rasional pada agar berubah pada keyakinan , pemikiran dan falsafah rasional yang baru , sehingga lahir perangkat perasaan yang baru, dengan demikian kita tidak akan merasa tertekan, melainkan kita akan merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.
  7. Terapi perilaku (Behavior Therapy), teknik ini menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu.
  8. Terapi kelompok (Group Therapy) dan Terapi keluarga (Family Therapy), teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa.
Reference :
Chaplin, J.P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Gunarsah, Singgih.D . (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
http://cikucikulucu.blogspot.com/2013/05/perbedaan-psikoterapi-dengan-konseling.html (diakses pada 17 Maret 2015)
http://putrijah.blogspot.com/2013/04/pengertian-psikoterapi.html (diakses pada 17 Maret 2015)
http://sisykurniaasih.blogspot.com/2013_03_01_archive.html (diakses pada 17 Maret 2015)

Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01

Psikoterapi- 1

A.    Pengertian Psikoterapi

Psikoterapi adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah - masalah yang dasarnya emosi, dimana seseorang yang terlatih dengan saksama membentuk hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan, memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang terhambat serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan positif dari kepribadiannya (Wolberg dalam Gunarsa, 2007)


B. Tujuan Psikoterapi

  1. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Psikodinamik menurut Ivey, et al (1987) adalah : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
  2.  Tujuan psikoterapi dengan pendekatam psikoanalisis menurut Corey (1991) dirumuslan sebagai : membuat sesuatu yag tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupakan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.
  3.  Tujuan psikoterapi dengan pendekatan Rogerian, terpusat pada peribadi, menurut Ivey, et al (1987) adalah : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau yang ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
  4. Tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik, dijelaskan oleh Ivey, et al (1987) sebagai berikut : untuk menghilangkan kesalah dalam belajar dan berperilaku dan untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. Arah perubahan perilaku yang khusus dilakukan oleh klien. Corey (1991) menjelaskan mengenai hal ini sebagai berikut : Terapi perilaku bertujuan secara umum untuk menghilangkan perilaku yang malasuai (mal adaptive) dan lebih banyak mempelajari perilaku yang efektif.
  5. Tujuan psikoterapi dengan metode dan teknik Gestalt, dirumuskan oleh Corey, et al (1987) sebagai berikut : Agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang. Corey (1991) merumuskan tujuan Gestalt sebagai berikut : membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya. unutk merangsangya meneriama tanggung jawab dari dorongan yang ada di dunia dalamnya yang bertentangan dengan ketergantungannya terhadap dorongan-dorongan dari dunia luar.

Tujuan terapi (Korchin) :
1.              memperkuat motivasi klien untuk melakukan hal yang benar
2.              mengurangi tekanan emosional
3.              mengembangkan potensi klien
4.              mengubah kebiasaan
5.              memodifikasi struktur kognisi
6.              memperoleh pengetahuan tentang diri
7.              mengembangkan kemampuan berkomunikasi & hubungan  interpersonal
8.              meningkatkan kemampuan mengambil keputusan
9.              mengubah kondisi fisik
10.            mengubah kesadaran diri mengubah lingkungan sosial



C. Unsur-Unsur Psikoterapi
Menurut Masserman ada delapan parameter pengaruh dasar yang mencangkup unsur-unsur lazom pada semua jenis psikoterapi.
  1. Peran social
  2. Hubungan (Persekutuan tarapeutik)
  3. Hak
  4. Retrospeksi
  5. Reduksi
  6. Rehabilitisi, memperbaiki gangguan perilaku berat
  7. Resosialisasi
  8. Rekapitulasi


Reference:

Gunarsah, Singgih.D . (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
Maulany, R.F. (1994). Buku Saku Psikoterapi: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Penerbit Buku Kedokteran  EGC.
https://staciafie.wordpress.com/2014/04/02/pengertian-dan-tujuan-psikoterapi/  (diakses pada 17 Maret 2015)




Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01
                                                                    

Sabtu, 08 November 2014

Perencanaan, Penetapan, dan Pengorganisasian dalam Struktur Manajemen

Kali ini Saya akan membahas tentang perencanaan, penetapan, dan pengorganisasian dalam struktur manajemen. Agaknya kurang kemampuan saya dalam bidang ini mengingat saya adalah mahasiswa psikologi. Tapi tentunya hal ini tidak membuat saya tidak mau mencoba. Yuk, di mulai.

Saya mengambil salah satu artikel dari Kompas.com yang judulnya adalah "Perempuan ini Mengubah Desa TKW Menjadi Desa Batik". disamping ini adalah gambar dari artikel yang saya pilih ntuk dibahas, untuk bacaan lebih lengkapnya bisa klik disini..

  1. Perencanaan
Berbicara tentang perencanaan dalam manajemen tentu kita harus tahu dulu apa itu perencanaan. Perencanaan didefinisikan sebagai suatu proses menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana hal tersebut dapat dicapai. Rencana meliputi sumber-sumber yang dibutuhkan, tugas yang diselesaikan, tindakan yang diambil dan jadwal yang diikuti. Para manajer mungkin membuat rencana untuk stabilitas (plan for stability), rencana untuk mampu beradaptasi (plan for adaptibility) atau para manajer mungkin juga membuat rencana untuk situasi yang berbeda (plan for contingency).

Dalam artikel yang saya pilih ini,  Sri Lestari (34) sebagai pencetus dalam idenya yang ingin mengubah desa TKW menjadi desa batik.Banyaknya perempuan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, yang menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri membuat beliau prihatin. Berangkat dari keprihatinan tersebut, wanita yang bekerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kendal ini mencoba mengurangi banyaknya perempuan Kendal yang menjadi TKW. Salah satunya dengan memberi keterampilan bagi ibu-ibu yang ada di Desa Jambearum Patebon. Dari artikel ini perencanaan yang dibuat oleh Sri Lestari ini adalah memberi pelatihanketerampilan kepada ibu-ibu di Desa Jambearum, keterampilan menjahit yang berujung dengan pelatihan membatik. Hasilnya cukup menggembirakan. Sebab, ada banyak ibu yang tertarik untuk menekuni keterampilan membatik. Terlebih lagi, Pemerintah Kabupaten Kendal sedang giat-giatnya memperkenalkan batik Kendal kepada masyarakat. 

      2.  Penetapan
Penetapan berarti menetapkan tujuan-tujuan yang menjadi sasaran sebuah bisnis. Setiap bisnis memerlukan tujuan karena itu pembahasan dimulai dari aspek-aspek dasar penentuan tujuan organisasi. Selanjutnya, manajer juga perlu membuat keputusan tentang serangkaian tindakan atau program kerja yang bersifat komprehensif dan terintegrasi dalam mencapai tujuan perusahaan. Dengan demikian, penentuan program kerja atau strategi tersebut tidak mungkin dibuat berdasarkan satuan problem sementara atau hanya untuk memenuhi kebutuhan yang muncul seketika. Namun, penentuan program tersebut meliputi cakupan yang lebih luas dalam menghadapi perubahan lingkungan dan tantangan-tantangan yang muncul di masa mendatang.

Dalam artikel ini Sri Lestari (34) menetapkan tujuannya untuk merubah desa TKW menjadi desa batik. Sri Lestari menetapkan tujuan produksi dibidang batik seperti, memproduksi berbagai batik, mulai dari berbagai jenis batik berikut motifnya, hingga pakain motif batik dan juga memproduksi pernak-pernik batik, seperti sapu tangan, tempat tisu, dasi, tutup nasi, dan taplak. 

      3. Pengorganisasian
Pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber, dan lingkungannya. Dengan demikian hasil pengorganisasian adalah struktur organisasi.
Dalam artikel ini, Sri Lestari (34) sebagai pencetus ide untuk mengubah Desa Jambearum sebagai Desa batik dan ibu-ibu atau warga lain sebagai karyawan dan beberapa sebagai pelatih untuk memberikan pelatihan keterampilan seperti membatik dan menjahit.





 Referensi:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/07/061600926/Perempuan.Ini.Mengubah.Desa.TKW.Menjadi.Desa.Batik (diakses pada 7 November 2014)

http://elqorni.wordpress.com/2010/03/16/modul-2-perencanaan-dalam-organisasi-perusahaan-ii/ (diakses pada 7 November 2014)
http://mdr-manajemen.blogspot.com/2013/11/penetapan-tujuan-bisnis-dan-perumusan.html (diakses pada 7 November 2014)
http://repastrepost.blogspot.com/2013/11/pengorganisasian-dalam-manajemen.html (diakses pada 7 November 2014)




Rifdaturahmi

                                                                                                        16512334

                                                                                                        3 PA 01
Tugas kedua Psikologi manajemen

Minggu, 12 Oktober 2014

PSIKOLOGI MANAJEMEN - Ilustrasi



            Menjadi seorang pemilik perusahaan dan memegang kendali penuh terhadap setiap aktivitas dari perusahaan merupakan salah satu harapan dari setiap orang yang ada di dunia ini. Saya, Rifdaturahmi akan menceritakan mengenai harapan saya untuk menjadi seorang pemilik perusahaan dan strategi saya untuk menjalankan dan mengembangkan perusahaan saya menjadi perusahaan yang besar.
            Besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki negara Indonesia dalam sektor pertambangan serta semakin banyaknya keberadaan para penambang baik dalam skala kecil dan skala besar menggugah saya untuk mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan juga. Namun, fokus saya dalam pendirian perusahaan ini adalah pada bidang jasa penyedia peralatan tambang dan konsultan pertambangan untuk para penambang kecil, gagasan ini timbul karena keprihatinan saya terhadap para penambang kecil yang sampai saat ini masih menggunakan peralatan yang sangat tradisional dalam pekerjaannya sebagai penambang.
             Untuk mengawali perusahaan ini, saya mengumpulkan rekan-rekan saya dan sanak saudara saya yang memiliki kemampuan dan profesionalitas dalam bidang pertambangan dan bidang-bidang yang diperlukan dalam pembentukan perusahaan ini. Setelah itu saya melakukan staffing dalam perusahaan saya serta menentukan jobdesc yang akan diterima oleh setiap anggota lini perusahaan.
            Pada ilmu manajerial perusahan, siklus hidup dari  suatu perusahaan itu ada 3 tahap yaitu introduction, growth, dan mature. Pada tahap introduction, saya melakukan pengenalan dan promosi pada para penambang kecil agar para penambang kecil pada lokasi tersebut lebih mengenal perusahaan saya dan akan sesuai harapan yaitu semakin banyak para penambang yang memiliki sumber tambang pribadi yang akan menggunakan jasa perusahaan saya.
            Setelah melewati tahap introduction dengan kondisi perusahaan semakin banyak dikenal dan semakin banyak yang menggunakan jasa dari perusahaan saya, kini mulai memasuki tahap growth yaitu dengan memulai melakukan pelebaran wilayah ekspansi bisnis ke sumber-sumber tambang yang masih dimiliki oleh penambang pribadi yang masih kecil skalanya.
Tak sekadar melakukan pelebaran wilayah ekspansi, saya melakukan penambahan dana untuk modal perusahaan sebagai penunjang dari ekspansi tersebut dengan pembiayaan melalui koperasi pada unit perusahaan dengan aktivitas kecil dan pembiayaan melalui bank umum pada unit perusahaan dengan aktivitas yang lebih besar. Harapan saya, pada tahap ini perusahaan saya akan semakin mapan dan mulai memiliki tambahan dana dari pihak ketiga seperti investor perorangan, bukan lagi dari pembiayaan lembaga keuangan.
Jika perusahan telah sampai pada tahap growth, dengan kondisi wilayah ekspansi perusahaan semakin luas dan sudah memiliki cabang yang cukup banyak di beberapa wilayah. Maka mulailah perusahaan saya memasuki tahap mature. Pada tahap ini, perusahaan sudah mencapai tahap paling puncak, aktivitas perusahaan stabil, profit semakin meningkat, kondisi keuangan semakin mapan, client semakin banyak, dan anggota perusahaan semakin sejahtera. Pada tahap ini saya hanya melakukan controling pada setiap aktivitas divisi perusahaan dan mengamati kondisi eksternal serta internal perusahaan untuk meminimalisir risiko yang akan dihadapi perusahaan di masa yang akan datang juga mempertahankan eksistensi perusahaan pada persaingan bisnis di sektor perusahaan pertambangan.


Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                        3PA01
                                                                       Tugas Pertama Psikologi Manajemen





           

Minggu, 25 Mei 2014

Penyesuaian Diri

Konsep Penyesuaian Diri yang Sehat

Apa ya penyesuaian diri itu? pastinya kita sudah belajar itu sejak SD, Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut  dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.

Lalu apa itu penyesuaian diri yang sehat? penyesuaian diri yang sehat adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotic adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap.
                Istilah “sehat” berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya. Kesehatan merupakan cirri yang sangat khas dalam penyesuaian diri yang baik. singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, ornag yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik, frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku yang simtomatik. Karena itu, ia relative bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan kronis, obsesi, atau gangguan-gangguan psikofisiologis (psikosomatik). Ia menciptakan dunia hubungan antarpribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan kepribadian.



 aspek-aspek penyesuaian diri adalah sebagai berikut :

Penyesuaian pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. 

Adapun indikator-indikator secara rinci dari penyesuaian pribadi adalah sebagai berikut :
  1. Penerimaan individu terhadap diri sendiri
  2. Mampu menerima kenyataan
  3. Mampu mengontrol diri sendiri
  4. Mampu mengarahkan diri sendiri
Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa,  atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.

Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan 
penyesuaian diri.

 Penyesuaian sosial

Penyesuaian sosial merupakan kemampuan individu untuk mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada, sehingga ia mampu menjalin relasi sosial dengan baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam penelitian ini penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat remaja hidup dan berinteraksi yaitu panti asuhan, baik dengan pengasuh maupun teman-teman sesama penghuni panti asuhan. Sedangkan indikator-indikator untuk penyesuaian social adalah :
  1. Memiliki hubungan interpersonal yang baik
  2. Memiliki simpati pada orang lain
  3. Mampu menghargai orang lain
  4. Ikut berpartisipasi dalam kelompok
  5. Mampu bersosialisasi dengan baik sesuai norma yang ada

Contoh Penyesuaian Diri yang Sehat 
seorang anak yang membutuhkan rasa kasih sayang dari ibunya yang terlalu sibuk dengan tugas-tugas lain. Anak akan frustasi dan berusaha sendiri menemukan pemecahan untuk mereduksi ketegangan/ kebutuhan yang belum terpenuhi. Dia mungkin mencari kasih sayang di mana-mana, atau mengisap jarinya, atau bahkan tidak berupaya sama sekali, atau makan secara berlebihan, sebagai respon pengganti bila kebutuhan-kebutuhan tidak terpenuhi secara wajar. Dalam beberapa hal, respon pengganti tidak tersedia,  sehingga individu mencari suatu respon lain yang akan memuaskan motivasi dan mereduksi ketegangan. Contoh penyesuaian diri yang sehat bila anak membutuhkan rasa kasih sayang dari  ibunya yang terlalu sibuk, anak akan berpikir positif, bahwa ibunya sibuk pun alasannya untuk dia juga. Maka jika anak mengerti dia akan merespon dengan positif seperti, rajin belajar, menjadi anak yang baik, dan melakukan hal-hal yang disukai ibu nya agar penat ibunya yang sibuk dapat hilang karena melihat prestasi anak dan anakpun akan dapat kasih sayang ibunya yang diharapkan sebelumnya. 

Reference :

 OFM, Yustinus Semiun. (2006) . Kesehatan mental 1. Yogyakarta : Kanisius.

http://rumusbelajar.blogspot.com/2012/12/proses-penyesuaian-diri.html  di akses pada 26 Mei 2014 pukul 13:31 WIB

Rifdaturahmi

                                                                                                        16512334
                                                                                                        2PA01
                                                                       Tugas Ketiga Kesehatan Mental