Kamis, 19 November 2015

Sistem Informasi Psikologi - Task 2

Tugas kedua mata kuliah Sistem Informasi Psikologi kali ini terdiri dari beberapa tulisan, yoook kita mulai... 

1. Pengertian sistem informasi berbasis komputer dari berbagai sumber (Minimal 3)


Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan suatu sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan

Wahyono (2004) mengatakan sistem informasi berbasis komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuha informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan.

 
Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis. Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer. CBIS (Computer Based Information System) merupakan sebuah sistem yang terintegrasi, sistem-manusia-mesin yang memanfaatkan perangkat keras, perangkat lunak, database dan prosedur yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang mendukung kegiatan organisasi.

2.  Macam-macam sistem informasi berbasis komputer
a. Fokus data (SIA/EDP):
  • SIA melaksanakan 4 tugas dasar, yaitu pengumpulan data, manipulasi data, penyimpanan data dan penyiapan data
  • Karakteristik SIA, yaitu melaksanakan tugas yang diperlukan, berpegang pada prosedur yang relatif standar, menangani data yang rinci, terutama berfokus historis serta menyediakan informasi pemecahaan masalah yang minimal.
b. Fokus informasi (SIM)
  • Definisi , yang pertama adalah Sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi pemakai dengan kebutuhan yang serupa (Raymond McLeod), kemudian definisi selanjutnya integrasi manusia/mesin guna menyediakan informasi untuk mendukung fungsi operasional manajemen&pengambilan keputusan pada suatu organisasi (Gordon B. Davis)
  • Elemen : Hardware, software, prosedur, database, model.
  • Tujuan SIM : Memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam sub unit oganisasional perusahaan.
c. Fokus pada sistem pendukung keputusan (SPK)
  • Definisinya adalah Sistem komputer yang interaktif yang membantu pembuatan keputusan dalam menggunakan&memanfaatkan data&model untuk memecahkan masalah yang tidak terstruktur.
  • Tujuannya terdiri dari, memberikan dukungan untuk pembuatan keputusan pada masalah yang semi/tidak terstruktur, memberikan dukungan pembuatan keputusan kepada manajer pada semua tingkat untuk membantu integrasi antar tingkat, meningkatkan efektifitas manajer dalam pembuatan keputusan & bukan peningkatan efisiennya.
  • Karakteristik SPK :
  1. Adaptability
  2. Flexibility
  3. User Friendly
  4. Support Intelligence
  5. Design
  6. Choice
  7. Effectiveness
  • Manfaat SPK :
  1. Meningkatkan jumlah alternative yang dipilih.
  2. Pemahaman yang lebih baik tentang bisnis.
  3. Respon yang cepat terhadap situasi yang tidak diharapkan.
  4. Kontrol yang lebih baik.
d. Fokus pada komunikasi (otomatis kantor)
  • Definisinya adalah Semua sistem elektronik formal & informal terutama yang berkaitan dengan komunikasi informal ke dan dari orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan.
  • Fungsinya adalah untuk memudahkan jenis komunikasi baik lisan maupun tulisan & menyediakan informasi yang lebih baik untuk pengambilan keputusan.
  • Tujuannya, yaitu  menghindaran biaya, pemecahan masalah kelompok, sebagai pelengkap
  • Aplikasi OA :
  1. Word processing
  2. Email
  3. Voice mail
  4. Electronic calendering
  5. Audio conferencing
  6. Video conferencing
  7. Computer conferencing
  8. Facsimile transmission
  9. Video text
  10. Imaging
  11. Desktop publishing
e. Fokus pada konsultan (sistem pakar)
  • Definisi : Program komputer yang berfungsi seperti manusia yaitu memberi konsultasi kepada pemakai mengenai cara pemecahan masalah.
  • Komponen ES :
  1. User interface
  2. Knowledge interface
  3. Interface engine
  4. Development engine
  • Output ES :
  1. Penjelasan pertanyaan
  2. Penjelasan pemecahan masalah
 
 3.  Jelaskan yang dimaksud dengan
a. Pemrosesan batch
Sebuah batch adalah sekelompok transaksi yg serupa (misal pesanan penjualan) yg diakumulasi selama beberapa waktu dan kemudian diproses bersama-sama.
Dua keunggulan pemrosesan batch :
1. Organisasi meningkatkan efisien dengan bersama-sama mengelompokkan sejumlah besar transaksi ke dlm kelompok daripada memproses setiap peristiwa secara terpisah.
2. Memberikan sarana kontrol atas pemrosesan transaksi. Keakuratan proses tersebut dpt dibentuk dgn secara periodik merekonsiliasi kelompok transaksi dgn angka kontrol.

 b. Pemrosesan online
sebuah sistem yang mengaktifkan semua periferal sebagai pemasok data, dalam kendali komputer induk. Informasi-informasi yang muncul merupakan refleksi dari kondisi data yang paling mutakhir, karena setiap perkembangan data baru akan terus diupdatekan ke data induk. Salah satu contoh penggunaan online processing adalah transaksi online. Dalam sistem pengolahan online, transaksi secara individual dientri melalui peralatan terminal, divalidasi dan digunakan untuk meng-update dengan segera file komputer. Hasil pengolahan ini kemudian tersedia segera untuk permintaan keterangan atau laporan.


c. Sistem realtime
Real time system disebut juga dengan Sistem waktu nyata. Sistem yang harus menghasilkan respon yang tepat dalam batas waktu yang telah ditentukan. Jika respon komputer melewati batas waktu tersebut, maka terjadi degradasi performansi atau kegagalan sistem. Sebuah Real time system adalah sistem yang kebenarannya secara logis didasarkan pada kebenaran hasil-hasil keluaran sistem dan ketepatan waktu hasil-hasil tersebut dikeluarkan. Aplikasi penggunaan sistem seperti ini adalah untuk memantau dan mengontrol peralatan seperti motor, assembly line, teleskop, atau instrumen lainnya. Peralatan telekomunikasi dan jaringan komputer biasanya juga membutuhkan pengendalian secara Real time.


4. Apa yang dimaksud dengan data base
Database atau basis data adalah kumpulan data yang disimpan secara sistematis di dalam komputer yang dapat diolah atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak (program aplikasi) untuk menghasilkan informasi. Pendefinisian basis data meliputi spesifikasi berupa tipe data, struktur data dan juga batasan-batasan data yang akan disimpan. Basis data merupakan aspek yang sangat penting dalam sistem informasi dimana basis data merupakan gudang penyimpanan data yang akan diolah lebih lanjut. Basis data menjadi penting karena dapat mengorganisasi data, menghidari duplikasi data, hubungan antar data yang tidak jelas dan juga update yang rumit.

Sekian dulu yaaa tulisan untuk tugas kedua ini, semoga bermanfaat :)

Reference
http://alifatulazizah.blogspot.co.id/2014/11/sistem-informasi-berbasis-komputer-cbis.html
https://4jipurnomo.wordpress.com/computer-based-information-system-cbis/ 
http://some-techno.blogspot.co.id/2012/12/macam-macam-sistem-informasi.html
http://zakki.dosen.narotama.ac.id/files/2011/12/BAB-8-SI-Berbasis-Komputer.pdf
https://rifkaputrika.wordpress.com/2015/11/18/tugas-2-sistem-informasi-psikologi/ 
http://budiinformatics.blogspot.co.id/2010/03/pemrosesan-transaksi-secara-batch.html 
http://www.gurupendidikan.com/perbedaan-batch-online-real-time-processing-method/ 
https://dwiishartono.wordpress.com/2008/09/17/real-time-systemrts/ 
http://www.termasmedia.com/65-pengertian/69-pengertian-database.html 


Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                        4PA01
                                                                       Tugas Kedua Sistem Informasi Psikologi
 

Kamis, 22 Oktober 2015

Sistem informasi Psikologi- 1

Assalamualaikum ^__^ sudah lama kita ga bahas sesuatu. Kali ini saya akan sedikit menceritakan, menjelaskan dan sejenisnya mengenai Sistem informasi. Psikologi? Sistem informasi? awalnya agak bingung, apa hubungannya dua ilmu berbeda ini. Tapi, mari coba kita cari tahu, apa ya hubungannya??? ternyata menarik loooh untuk dibahas dan digunakan dalam psikologi.. yoook mulaaaai..

A. Sistem Informasi Menurut Para Ahli 
Sistem informasi adalah sesuatu yang tidak asing lagi dizaman teknologi ini. Secara umum sistem informasi merupakan kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Sudah banyak ahli yang mendefinisikan sistem informasi dengan berbagai pemahaman, tiga diantaranya yaitu sistem informasi menurut :
  1. Menurut Muhyuzir (2001), Sistem informasi adalah data yang dikumpulkan, dikelompokkan dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah satu kesatuan informasi yang saling terkait dan saling mendukung sehingga menjadi suatu informasi yang berharga bagi yang menerimanya.
  2. Menurut Mc leod (2001), Sistem Informasi merupakan sistem yang mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan informasi dari semua sumber dan menggunakan berbagai media untuk menampilkan informasi
  3. Menurut Gondodiyoto (2007), Sistem informasi dapat didefinisikan sebagai kumpulan elemen-elemen atau sumber daya dan jaringan prosedur yang saling berkaitan secara terpadu, terintegrasi dalam suatu hubungan hierarki tertentu, dan bertujuan mengolah data menjadi informasi.

 B. Pengertian Sistem Informasi Psikologi 

Berdasarkan penjelasan sebelum ini, sudah dibahas mengenai sistem informasi, naah sekarang saya akan bahas mengenai psikologinya. apa sih psikologi itu???

Psikologi berasal dari perkataan Yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan hewan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat secara langsung yang berguna sebagai suatu usaha untuk memahami proses mental

Lalu bagaimana dengan sistem informasi psikologi?  definisi dan kegunaannya jika kedua ilmu berbeda ini bersatu. ini dia jawabannyaaa...
Menurut Gaol (2008), sistem informasi psikologi bertujuan mendapatkan pemahaman bagaimana manusia pembuat keputusan merasa dan menggunakan informasi formal. Sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan psikologi yang dapat bermanfaat bagi penggunanya.
Ada beberapa contoh penggunaan sistem informasi dalam psikologi yang sudah saya rasakan sendiri kemudahannya, yaitu (1)saat praktikum mengenai salah satu alat tes inventori yaitu papikostik. Tes tersebut menggunakan teknologi komputer untuk mempermudah jalannya tes dan skoringnya, serta mudah untuk melihat grafiknya. Hasilnya akan menjadi lebih jelas di banding dibuat secara manual. sangat ringkas karena grafik (cakram) otomatis jadi sesuai dengan skor yang di input..
C. Arsitektur Komputer
Yaak mengenai ini agak berat untuk saya bahas, melihat saya bukan ada dibidang ini. Tapi, akan saya coba dan mohon koreksi jika ada kesalahan yaaa agar dapat kita diskusikan.
Arsitektur komputer adalah suatu konsep yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengaturan dan evaluasi yang dilakukan untuk menjalankan sistem yang telah dibuat supaya dapat digunakan. Dalam "mengoperasikan" arsitektur komputer ini dibutuhkan beberapa komponen, yang diantaranya adalah arsitektur set instruksi yang berupa program dan arsitektur sistem hardware yang berupa perangkat keras atau hardware.
Sebuah perencanaan sistem melalui tahap sebagai berikut :
  1. Tingkat 1 : Ide, menyadari akan suatu hal dan menginginkan perubahan
  2. Tingkat 2 : Design, merancang apa yang dipikirkan
  3. Tingkat 3 : Pelaksanaan, menuangkan rancangan ke dalam suatu sistem
  4. Tingkat 4 : Kontrol, memeriksa apalah sistem yang dibuat dapat dijalankan 
  5. Tingkat 5 : Evaluasi, memeriksa kembali sistem yang telah berjalan
  6. Tingkat 6 :Tindak lanjut, menindak lanjuti apa yang telah dievaluasi.

D. Struktur Kognisi Manusia
Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan.Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual. Struktur Kognisi Manusia merupakan organisasi pengetahuan atau dengan kata lain bahwa struktur kognitif dapat disebut juga sebagai pengetahuan. Selain itu struktur kognitif manusia adalah proses berpikir yang terjadi pada setiap manusia sehingga memiliki control terhadap proses berpikirnya sendiri.
Bagaimana Struktur Kognisi Manusia?? yaitu mulai dari stimulus yang mengawali. Kemudian masuk ke penampungan memori jangka pendek, setelah itu diperhatikan dan masuk ke penampungan memori kerja, lalu diulang dan disandikan pada memori jangka panjang yang diakhiri dengan respon


E.  Keterkaitan antara Struktur Kognisi Manusia dengan Arsitektur Komputer 


Manusia dalam mempermudah pekerjaannya, mengembangkan teknologi yang mampu mempermudah pekerjaan manusia baik dalam bentuk pekerjaan yang mengandalkan kontribusi langsung dengan kemampuan berfikir (mengolah data dan lain sebagainya). Ada juga pekerjaan yang berhubungan dengan tenaga (pemrograman mesin produksi) adalah komputer. Komputer dapat menyimpan dan memproses data sesuai dengan kebutuhan penggunanya, yaitu manusia. Perbedaannya adalah pengetahuan yang ada dalam otak manusia merupakan hasil dari proses perkembangan kognitif manusia tersebut. Pengetahuan bagi manusia dapat digantikan dengan nama program bila pada komputer, dan program pada komputer adalah hasil ciptaan manusia.
keterkaitan antara struktur kognisi manusia dengan arsitektur komputer ada pada bagaimana cara kedua hal tersebut menerima informasi hingga memanggil informasinya kembali. Struktur kognisi manusia mengalami proses input data seperti komputer, yang kemudian disimpan dalam memori jangka pendek (short term memory) atau memori jangka panjang (long term memory) yang merupakan proses storage dalam komputer. Ketika manusia ingin mengingat/memanggil kembali (retrieval) memorinya, komputer melakukan output data yang ada di storage.


F.  Kelebihan dan Kelemahan Arsitektur Komputer Dibandingkan Dengan Kognisi Manusia
 Kelebihan
A. Arsitektur komputer
  1. Informasi yang sudah tersimpan tidak tercampur dengan informasi yang lainnya
  2. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memunculkannya kembali
  3. Multi user, artinya sistem ini dapat digunakan oleh beberapa orang dalam waktu yang bersamaan
  4. Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu yang bersamaan
  5. Menggunakan teknologi time-sharing
B. Kognisi Manusia
  1. Arah dan tujuannya jelas karna tersusun secara sistematis
  2. Adanya proses belajar
  3. Mengoptimalkan kinerja otak
  4. Kapasitas memori lebih banyak

 Kekurangan
A. Arsitektur komputer
  1. Memerlukan tempat yang besar untuk menyimpan
  2. Harganya mahal
  3. Membutuhkan waktu yang lama dalam memproses serta daya listrik yang besar
 B. Kognisi manusia
  1. Memerlukan waktu yang lama dalam memunculkan kembali informasi yang sudah disimpan
  2. Memungkinkan informasi tercampur atau bahkan terlupakan



Referensi :
Basuki ,Heru A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Gaol, C.J.L. (2008). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Grasindo.

Gondodiyoto, S. (2007). Audit Sistem Informasi + Pendekatan COBIT. Edisi Revisi.
Jakarta: Mitra Wacana Media.
 
Mcleod, R. (2001). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta:  PT. Prenhallindo 
  
Muhyuzir, T. D. (2001). Analisa Perancangan Sistem Pengolahan Data, ed 2nd. Jakarta: PT. Elex  Media Komputindo.
http://emiranas.blogspot.co.id/2015/01/arsitektur-komputer-dan-struktur.html
http://ekaseptyani.blogspot.co.id/2013/10/tugas-2-arsitektur-komputer-dan.html 
http://reswari-adaninggar.blogspot.co.id/2014/10/tulisan-1-2-m1-sistem-informasi.html
https://ilmuwanmuda.wordpress.com/piaget-dan-teorinya/


                                                                                                                                               Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                        4PA01
                                                                       Tugas Pertama Sistem Informasi Psikologi

Senin, 20 April 2015

Konsep Carl Rogers

Person Centered Theraphy


Pandangan Person Centered Theraphy tentang sifat manusia menolak konsep kecenderungan negatif dasar. Rogers menunjukan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia tersosialisasi dan bergerak kemuka,berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki ebaikan yang positif. Manusia dipercayai dan karena pad dasarnya kooperatif dan konstruktif, tidak perlu diadakan pengendalian terhadap dorongan-dorongan agresifnya.
Pandangan tentang manusia yang positif ini memiliki implikasi yang berarti bagi praktik Person Centered Theraphy. Model Person Centered Theraphy menolak konsep yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan yang memandanga klien sebagai manusia pasif yang hanya mengikuti perintah-perintah terapis. Karenanya, Person Centered Theraphy berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat putusan-putusan.
Tujuan Terapeutik
Tujuan dasar Person Centered Theraphy adalah menciptakan iklim yang kondusif sebagai usaha untuk membantu klien menjadi pribadi yang berfungsi penuh. Untuk mencapai tujuan terapi, terapis perlu mengusahakan supaya klien bisa memahami hal-hal yang ada. Klien mengembangkan kepurapuraan dan bertopeng sebagai pertahanan terhadap ancaman. Sandiwara yang dimainkan oleh klien menghambat dirinya untuk tampil untuh dihadapan orang lain dan dalam usahanya menipu orang lain, ia menjadi asing terhadap dirinya sendiri.
Fungsi dan Peran Terapis
Peran terapis Person Centered Theraphy berakar pada cara-cara keberadaanya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan klien berbuat sesuatu. Yang menuntut perubahan kepribadian klien adalah sikap-sikap terapis. Pada dasarnya terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah. Dengan menghadapi klien pada taraf pribadi ke pribadi maka peran terapis adalah tanpa peran. Sedangkan fungsi terapis adalah membangun iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien. Terapis harus bersedia menjadi nyata dalam hubungan dengan klien. Melalui perhatian yang tulus, respect, penerimaan dan pengertian terapis maka klien bisa menghilangkan pertahanan dan persepsinya yang kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi.
Teknik dan Prosedur Terapi
Dalam kerangka Person Centered Theraphy, teknik-tekniknya adalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan, respek, dan pengertian serta berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan, dan mengeksplorasi. Menurut pandangan pendekatan Person Centered Theraphy, penggunaan teknik-teknik sebagai muslihat terapis akan mendepersonalisasi hubungan terapis klien. Teknik-teknik harus menjadi suatu pengungkapan yang jujur dari terapis, dan tidak bisa digunakan secara sadar diri karena terapis tidak akan menjadi sejati.

Reference :
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Konsep Dasar Teori Humanistik Eksistensial

Di tulisan beberapa sebelum ini sudah dibahas sedikit tentang humanistik eksistensial, mari sekarang kita bahas lebih dalam.... Yok!!

Pendekatan Humanistic-Eksistensial bukan suatu aliran terapi, bukan juga suatu teori tunggal yang sistematik melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi tentang manusia.
• Kesadaran diri
Manusia memiliki kemampuan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran itu pada seseorang maka akan semakin besar juga kebebasan yang ada pada orang tersebut.
• Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tidak terhindarkan.
• Penciptaan Makna
Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi, depresionalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yaitu mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya.
Tujuan Terapeutik
Terapi eksistensial bertujuan agar klien memahami keberadaanya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karena itu meningkatkan kesanggupan pilihannya, yaitu menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya. Selain itu, terapi eksistensial juga bertujuan untuk membantu klien agar dapat menghadapi kecemasan yang berhubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik diluar dirinya.
Fungsi dan Peran Terapis
Tujuan utama terapis adalah berusaha untuk memahami klien sebagai ada dalam- dunia. Karena menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metode-metode dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien ke klien lain, tetapi juga dari satu kelain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.
May (dalam Corey, 2007) memandang tugas terapis adalah membantu klien agar menyadari keberadaaanya dalam dunia: “ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir didunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia”.
Teknik-teknik Terapeutik
Pendekatan Humanistic-Eksistensial tidak mempunyai teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur terapi dapat diambil dari beberapa pendekatan terapi lain. Metode yang berasal dari terapi Gestalt dan analisis transaksional sering dipakai.

Referece :
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama


Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01
 

Konsep Dasar Teori Psikoanalisa

Ya, kali ini kita akan membahas tentang konsep dasar teori psikoanalisis. agak pusing, tapi, yuk mari kita cobaaaa...

yang petama ada, Kesadaran dan ketaksadaran
Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Seperti gunung es yang mengapung yang bagian terbesarnya berada dibawah permukaan air, bagian jiwa yang terbesar berada dibawah permukaan kesadaran. Ketaksadaran menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan, dan bahan-bahan yang di represi. Freud percaya, bahwa sebagian besar fungsi psikologis berada di luar kesadaran.
Sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tak sadar menjadi disadari, karena hanya ketika menyadari motif-motif tersebutlah individu bisa melaksanakan pilihan. Walaupun diluar kesadaran, ketaksadaran tetap mempengaruhi tingkah laku. Proses-proses tak sadar adalah akar dari gejala dan tingkah laku neurotik. Dari perspektif ini, penyembuhan adalah upaya untuk menyingkap gejala-gejala, sebab tingkah laku dan bahan-bahan yang direpresi yang menghalangi fungsi psikologis yang sehat.

lalu  kita bahas tentang Struktur Kepribadian
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Id
Kepribadian seseorang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa mentoleransi tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas kesenangan, bersifat tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
b. Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Tugas utama Ego adalah menjadi pengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Ego berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
c. Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, kode moral bagi individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang real dan mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego berfungsi menghambat impuls-impuls dari Id.
Selanjutnya ada , Mekanisme Pertahanan Ego
Apa ya itu?? Jadi, Mekanisme-mekanisme pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego tidak selalu patologis dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup. Berikut ini beberapa bentuk mekanisme pertahanan ego :
a. Penyangkalan
Penyangkalan adalah pertahanan melawan kecemasan dengan menutup mata terhadap keberadaan kenyataan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataan yang membangkitkan kecemasan.
b. Proyeksi
Proyeksi adalah mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang tidak disukai dan ia tiak bisa menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri.
c. Fiksasi
Fiksasi adalah menjadi “terpaku’ pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena mengambil langkah ke tahap selanjutnya bisa menyebabkan kecemasan.
d. Regresi
Regresi adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar.
e. Rasionalisasi
Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang “baik” untuk menghndari ego dari cedera atau memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan.
f. Sublimasi
Sublimasi adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
g. Displacement
Displacement adalah mengarahkan energi kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau orang yang sebenarnya, tidak bisa dijangkau.
h. Represi
Represi adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketidak sadaran, atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan. Represi merupakan salah satu konsep Freud yang paling penting.
i. Formasi reaksi
Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan keinginan tak sadar. Jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang menampilkan tingkah laku yang berlawanan untuk menyangkal perasaan-perasaan yang bisa menimbulkan ancaman.

Kemudia ada pula Perkembangan Psikoseksual
Sumbangan yang berarti dalam model psikoanalitik adalah pelukisan tahap-tahap perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari lahir hingga dewasa.
– Tahun pertama kehidupan : Fase Oral
Dari lahir sampai akhir usia satu tahun seorang bayi menjalani fase oral. Mengisap buah dada ibu memuaskan kebutuhan akan makanan dan akan kesenangan karena mulut dan bibir merupakan zona erogen yang peka selama fase oral.
Tugas perkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya, yaitu percaya kepada orang lain, dunia, dan diri sendiri.
– Usia satu sampai tiga tahun : Fase Anal
Tugas yang harus diselesaikan ada fase ini adalah belajar mandiri, memiliki kekuatan pribadi dan otonomi, serta belajar bagaimana mengakui dan menangani perasaan-perasaan yang negatif. Selama fase anal, anak dipastikan akan mengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dsb.
– Usia tiga sampai lima tahun : Fase Falik
Selama fase falik, aktivitas seksual menjadi lebih intens dan perhatian dipusatkan pada alat-alat kelamin yaitu penis pada anak laki-laki dan klitoris pad anak perempuan. Pada fase falik, masturbasi meningkat frekuensinya. Anak-anak menjadi lebih ingin tau tentang tubuhnya, mereka berhasrat untuk mengekplorasi tubuh sendiri dan untuk menemukan perbedaan-perbedaan diantar kedua jenis kelamin.

Nah sekarang kita beranjak ke, UNSUR-UNSUR TERAPI
Tujuan Terapi Psikoanalitik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian.

Fungsi dan Peran Terapis

Karakteristik psikoanalisi adalah terapi atau analis membiarkan dirinya anonim sera hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analis. Analis berusaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan serta secara realistis. Yang dilakukan klien sebagian besar adalah berbicara, yang dilakukan oleh analis adalah mendengarkan dan berusaha untuk mengetahui kapan dia harus membuat penafsiran yang layak untuk mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari.
Sama seperti yang kita bahas sebelumnya, sekarang akan sedikit kembali kita ulas tentang TEKNIK-TEKNIK TERAPI
– Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik utama terapi psikoanalitik. Analis meminta kepada klien agar membersihkan pikirannya dari peikiran-pemikiran dan renungan sehari-hari dan sebisa mungkin mengatakan apa saja yang melintas dalam pikirannya. Dengan melaporkannya segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Cara yang khas adalah klien berbaring diatas balai-balai sementara analisi duduk dibelakangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi nya mengalir bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan melepas emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik dimasa lampau yang dikenal dengan katarsis.
– Analisis Transferensi
Transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Transferensi dalam proses terapeutik ketika “urusan yang tidak selesai” dimasa lalu klien dengan orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang. Analisis trasferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi dan deprivasi dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang. Singkatnya, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.
– Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan mengingat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan yang direpresi itu.
Resistensi bekerja dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketidaksadaran klien.
– Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan melemah dan perasaa yang direpresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi sebagai “jalan istimewa menju ketidaksadaran” karena melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari diungkapkan. Mimpi memiliki dua taraf isi yaitu isi laten dan isi manifes.

Semoga bermanfaat yaaa teman-teman...

Reference:
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama



Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01
 

Terapi Person Centered Therapy

 
 
Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. dan meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena serangan jantung. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral dan etika.
 
Carl R. Rogers mengembangkan Person Centered Theraphy sebagai reaksi terhadap apa yang disebut olehnya sebagai keterbatasan-keterbatasan mendasar bagi psikoanalisis. Pendekatan Person Centered Theraphy adalah cabang khusus dari terapi humanistik. Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah. Pendekatan Person Centered Theraphy menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dengan klien merupakan katalisator untuk perubahan, klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidup klien tersebut.
 
Tidak ada metode atau teknik yang spesifik. Karena Client-Centered Therapy menitikberatkan pada sikap-sikap terapis. Namun ada beberapa teknik dasar yang harus dimiliki terapis yaitu mendengarkan klien secara aktif, merefleksikan perasaan klien, dan kemudian menjelaskannya (Corsini & Wedding, 2011).
Penekanan teknik-teknik dalam pendekatan ini adalah pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, dan sikap-sikap terapis, serta hubungannya dengan terapeutik. Dalam kerangka client centered, “teknik-teknik”nya adalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan, respek dan pengertian serta berbagi upaya dengan client dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi. Periode-periode Perkembangan Terapi Client Centered Hart (1970) membagi perkembangan teori Rogers ke dalam tiga periode yakni :
 periode 1 (1940-1950) : Psikoterapi nondirektif, dimana menekankan penciptaan iklim permisif dan nondirektif. Penerimaan dan klarifikasi sebagai tekniknya.  
 ·         Periode 2 (1950-1957) : Psikoterapi reflektif. Terapis merefleksikan perasaan-perasaan client dan menghindari ancaman dalam hubungannya dengan dengan client. Client diharapkan mampu mengembangkan keselarasan antara konsep diri dan konsep diri ideal.
·         Periode 3 (1957-1970); Terapi eksperiensial. Tingkah laku yang luas terapis yang mengungkapkan sikap-sikap dsarnya menandai pendekatan ini. Terapis difokuskan pada apa yang sedang dialami client dan pengungkapan oleh terapis. Sejak tiga pulu tahun terakhir, terapi client centered telah bergeser ke arah lebih banyak membawa kepribadian terapis dalam proses terapeutik.
 
Reference : 
 
Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama
 
Corsini, Raymond, J., dan Danny, Wedding. (2011). Current psychotherapies (Ed 10th). USA : Jon David Hague
 http://mustafa-afif.blogspot.com/2014/04/client-centered-therapy-carl-rogers.html (diakses pada 20 april 2015)
Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01

Terapi Humanistic Eksistensial

Yok sekarang kita lanjut lagi yaa, terapi humanistic eksistensial..


Pada dasarnya terapi eksistensial memiliki tujuan untuk meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Dalam buku Teori dan Praktek Konseling Psikoterapi oleh Gerald Corey pada tahun (2007), terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien menghadapi kecemasan sehubungan dengan pemilihan nilai dan kesadaran bahwa dirinya bukan hanya sekedar korban kekuatan-kekuatan determinisik dari luar dirinya. Terapi eksistensial memiliki cirinya sendiri oleh karena pemahamannya bahwa tugas manusia adalah menciptakan eksistensinya yang bercirikan integritas dan makna.

Pendekatan humanistic-eksistensial menekankan pada renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Banyak ahli psikologi yang berorientasi eksistensial yang mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku manusia pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu pengetahuan alam. Tujuan dasar dari banyak pendekatan psikoterapi adalah membantu individu agar mampu bertindak, menerima kebebasan dan bertanggung jawab untuk tindakan-tindakannya. Terapi eksistensial, berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan. Dalam penerapan-penarapan terapeutiknya, pendekatan humanistic-eksistensial memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi. Pendekatan humanistic-eksistensial menyajikan suatu landasan filosofis untuk orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia. 

Reference :

Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

http://www.psikologizone.com/konseling-terapi-pendekatan-eksistensial/06511676  (diakses pada 20 april 2015)
Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01
 

Terapi Psikoanalisis

Assalamua'laikum.... kali ini saya akan menulis tentang terapi menggunakan pendekatak psikoanalisis.. Yuk kita mulai,

Dunia terapi memiliki berbagai macam pendekatan yang dapat dijadikan acuan dasar pada semua praktik terapi. Teori mengenai psikoterapi merupakan landasan dasar terbentuknya terapi yang efektif. Masing-masing teori tentu saja dikemukakan oleh ahli yang berbeda sehingga penerapan dari pendekatan yang digunakan juga akan terlihat berbeda. Terapi dengan pendekatan psikoanalisa dirintis oleh tokoh yang bernama Sigmund Freud. Freud lahir di Wina pada tahun 1856.

Teori psikoanalitik Sigmund Freud adalah salah satu aliran utama dalam sejarah psikologi. Psikoanalisis merupakan sebuah model perkembangan dari kepribadian, filsafat tentang sifat manusia, dan metode psikoterapi.
Secara historis ada 3 aliran utama psikoanalisis, yaitu:
1. Psikoanalisis
2. Behaviorisme
3. Psikologi eksistensial-humanistik

Sumbangan-sumbangan utama yang bersejarah dari teori dan praktik psikoanalitik adalah:
  1.   Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bisa diterapkan pada perbedaan penderitaan manusia. 
  2. Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tidak sadar.
  3. Perkembangan pada masa anak-anak memiliki pengaruh yang besar terhadap kepribadian dimasa dewasa.
  4. Teori psikoanalitik menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk memahami cara-cara yang digunakan oleh individu dalam mengatasi kecemasan dengan mengandaikan adanya mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk menghinari luapan dari kecemasan. 
  5. Pendekatan psikoanalitik sudah memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketidaksadaran melalui analisis dari mimpi, resistensi, dan transferensi.

Aplikasi Teknik Psikoanalisa
Corey dalam Lubis (2011) mengatakan bahwa teknik terapi psikoanalisa adalah untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh insight, dan memahami arti dari simtom-simtom yang dirasakan oleh klien. Proses terapi selesai ketika tujuan-tujuannya telah tercapai yaitu memperoleh pemahaman intelektual dan emosional dimana hal tersebut diharapkan dapat mengubah kepribadian. 5 teknik dasar dari terapi psikoanalitik terdiri dari:
1.    Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas adalah teknik yang memberi kebebasan pada klien untuk mengatakan apa saja perasaan, pemikiran, dan renungan yang ada dalam pikirannya tanpa ada yang disembunyikan. Melalui teknik ini, klien diharapkan mampu melepaskan emosi yang berkaitan dengan pengalaman traumatik di masa lau yang terpendam (katarsis). Katarsis inilah yang mendorong klien memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif. Tugas terapis disini adalah memahami hal-hal yang di represi dan hanyut ke alam bawah sadar. Selanjutnya terapis akan menafsirkan hal tersebut dan menyampaikannya pada klien. Setelah itu, membimbing ke arah pemahaman dinamika kepribadian yang tidak disadari oleh klien.
2.    Analisis Mimpi
 
Freud menilai mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran karena melalui mimpi, hasrat, kebutuhan dan ketakutan yang di pendam akan mudah diungkapkan. Pada saat klien tidur, pertahanan egonya akan melemah sehingga perasaan yang ditekan akan muncul ke alam sadar. Analisis mimpi memungkinkan terapis untuk mengetahui masalah-masalah yang tidak terselesaikan oleh klien. Pada dasarnya mimpi memiliki 2 taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri dari motif yang disamarkan, tersembunyi dan bersifat simbolik karena terlalu menyakitkan dan mengancam seperti dorongan seksual dan agresif. Sementara itu, isi manifes terdiri dari bentuk mimpi yang tampil dalam impian klien. Tugas terapis disini adalah menyingkap makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol dari isi manifes mimpi, sehingga dapat diketahui isi laten klien.       
 
3.    Analisis Resistensi
Resistensi dipandang oleh Freud sebagai pertahanan klien terhadap kecemasan yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan dan perasaan yang direpresinya. Hal ini akan menghambat terapis dan klien memperoleh pemahaman dinamika ketidaksadaran klien. Jika terjadi resistensi, terapis harus membangkitkan perhatian klien dan menafsirkan resistensi yang paling terlihat untuk mengurangi kemungkinan klien menolak penafsiran. Resistensi dapat menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan sehingga sebisa mungkin terapis harus dapat memberi pemahaman pada klien agar membuka tabir resistensinya.
  
4.    Analisis Transferensi
Transferensi merupakan reaksi klien yang melihat terapis sebagai orang yang paling dekat dan penting dalam hidupnya di masa lalu. Sebagian besar terapis akan mengembangkan neurosis transferensi yang dialami klien di lima tahun pertama kehidupannya. Untuk itu terapis harus melakukannya secara netral, objektif, anonim dan pasif. Teknik ini akan mendorong klien menghidupkan kemabali masa lalunya sehingga memberi pemahaman pada klien mengenai pengaruh masa lalunya terhadap kehidupannya saat ini. Melalui transferensi, klien juga mampu menyadari konflik masa lalu yang masih dipertahankannya sampai sekarang. 
5.    Interpretasi (Penafsiran)
Interpretasi merupakan prosedur dasar yang mencakup analisis terhadap asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transferensi. Terapis akan menyampaikan sekaligus memberi pemahaman pada klien mengenai makna dari tingkah laku klien yang dimanifestasikan melalui keempat teknik psikoanalisis tersebut. Tujuan dari penafsiran ini adalah agar mendororng ego klien untuk megasimilasi hal-hal baru dan mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari. Penafsiran harus disampaikan pada saat yang tepat agar dapat diterima klien sebagai bagian dari dirinya. Apabila disampaikan terlalu cepat, kemungkinan klien akan melakukan penolakan, tetapi apabila penafsiran jarang dilakukan, kemungkinan klien akan sulit memperoleh insight atas masalahnya.
                        
Terapi dengan pendekatan psikoanalisa ini tidak terlalu tepat jika digunakan pada orang-orang yang ingin berfungsi sepenuhnya atau ingin mencapai aktualisasi diri, artinya tidak terlalu tepat bagi orang-orang sudah dalam keadaan baik, yang berkeinginan untuk menjadi lebih baik lagi. Orang-orang yang ingin beraktualisasi diri akan lebih baik apabila menjalani konseling dengan pendekatan humanistik dan eksistensial. Untuk terapi dengan pendekatan Psikoanalisa akan lebih tepat untuk klien-klien yang memiliki masalah berat sampai ringan, mulai dari masalah-masalah abnormal sampai pada masalah ringan, seperti putus cinta, trauma, dan lain-lain.

 Reference:

Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik.   Jakarta: Kencana Prenada Media Group

http://xihuanpsychology.blogspot.com/2013/03/terapi-dengan-pendekatan-psikoanalisa.html (diakses pada 20 april 2015)


Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01
 

Selasa, 17 Maret 2015

Psikoterapi-3

Haloooo, Yok kita lanjut lagi dengan the last task dipertemuan pertama ini.. hmm, sekarang kita masih bicara seputar perbedaan psikoterapi dengan konseling, penjelasan terhadap mental Illness yang terdiri dari biological, psychological, sociological, dan philosophic, penjelasan dari bentuk-bentuk terapi supportive, reeducative, dan reconstructive.. 

Check it out !



A. Perbedaan Psikoterapi dan Konseling
Pertama kita akan membahas Perbedaan dari psikoterapi dan konseling, ditulisan pertama saya sudah bahas dan akan saya ingatkan kembali bahwa psikoterapi adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap masalah - masalah yang dasarnya emosi, dimana seseorang yang terlatih dengan saksama membentuk hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan, memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang terhambat serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan positif dari kepribadiannya (Wolberg dalam Gunarsa, 2007)
Sedangkan konseling merupakan proses wawancara tatap muka antara dua orang (konselor dan klien) yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada klien, sehingga klien dapat memecahkan masalahnya dan lebih berkembang dalam kehidupan sekarang dan masa depannya. Menurut British Association of counseling (dalam Mappiare, 2004), konseling merupakan suatu proses bekerja dengan orang banyak, dalam suatu hubungan yang bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah.
 
 
B. Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illnes
Menurut J.P. Chaplin  ada beberapa pendekatan psikoterapi terhadap mental illness, diantaranya:
a)      Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
b)     Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
c)      Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
d)     Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

 C. Bentuk-bentuk terapi supportive, reeducative, dan reconstructive
  1. Terapi supportive
adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Terapi suportif menawarkan dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.
Macam-macam teknik terapi suportif:
Guidance/Bimbingan, yakni prosedur pemberian pertolongan secara aktif dengan cara memberikan fakta dan interpretasi’ dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan bidang-bidang Kesehatan
Manipulasi lingkungan, yakni usaha untuk menyelesaikan problem-problem emosional klien dengan cara menghilangkan atau mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak menguntungkan
Eksternalisasi perhatian, yakni usaha untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami keeeinasan atau depresi dengan jalan memberikan dorongan agar klien dapat memulai lagi aktivitas yang pernah disenanginya ataupun mengembangkan kesenangan baru untuk mengisi waktu senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi perhatian antara lain terapi kerja, terapi musik,terapi gerak dan tari, terapi syair, terapi sosial
Sugesti-prestis, yakni usaha terapis untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh psikis tanpa daya kritik
Meyakinkan kembali (reassurance), terapi ini biasanya menyertai pada setiap terapi. Klien yang merasa dieengkam ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan dihibur.Terapis perlu mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan kliennya untuk menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar
Dorongan dan paksaan, yakni dengan memberikan ren-‘ara’ dan punishment untuk menstimulasi perilaku klien sesuai yang diharapkan. Di antaranya dengan cara klien diberi tugas untuk melawan impuls-impuls yang menimbulkan neurotik, berusaha menghilangkan atau mengurangi intcnsitasnya sampai di bawah titik kritis
Persuasi, yakni mendasari diri pada anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu kekuatan untuk proses emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan ataupun dengan menggunakan common sensenya sendiri, sebab pada umumnya orang yang menderita gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi
Pengakuan dan penyaluran, yakni dengan cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain. Pendekatan ini untuk mengurangi tekanan yang ada pada klien, sebab dengan adanya pengakuan dan penyaluran maka segala rasa tertekan yang mengganjal dapat dilepaskan (katarsis)
Terapi kelompok pemberi inspirasi, yakni terapi kelompok yang terdiri dari klien yang memiliki problem sejenis
  1. Terapi Reeducative
Untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasi tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi-potensi kreatif yang ada.
Cara-cara psikoterapi reduktif antara lain :
  • Terapi hubungan antar manusia (relationship therapy)
  • Terapi sikap (attitude therapy)
  • Terapi wawancara (interview therapy)
  • Analisa dan sinthesa yang distributif (terapi psikobiologik Adolfmeyer)
  • Konseling terapetik
  • Terapi case work
  • Reconditioning
  • Terapi kelompok yang reduktif
  • Terapi somatic 2
  1. Terapi Rekonstruktif
Terapi Rekonstruktif yakni menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Terapi ini untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya di alam tak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luar daripada struktur kepribadian dan pengluasan pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuaian diri yang baru.
Tujuan Terapi Rekonstruktif
Perombakan radikal daripada corak kepribadian hingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru.
Reference :
Chaplin, J.P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Gunarsah, Singgih.D . (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
Maulany, R.F. (1994). Buku Saku Psikoterapi: Residen Bagian Psikiatri UCLA. Penerbit Buku Kedokteran  EGC.
http://naza-blog.blogspot.com/2013/06/bentuk-bentuk-utama-dalam-terapi-terapi.html (diakses pada 17 maret 2015)
 
 
Rifdaturahmi
                                                                                                        16512334
                                                                                                       3PA01