Sabtu, 05 Januari 2013

Peran Manusia dalam Melestarikan Budaya atau Kesusastraan



 A.    Pengertian Kesusastra

Sastra (Sanskerta: hastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Karya sastra pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi antara sastrawan dan masyarakat pembacanya. Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisahan, dan amanat yang dikomunikasikan kepada pembaca. Untuk menangkap ini, pembaca harus mampu mengapresiasikannya. Pengetahuan tentang pengertian sastra belum lengkap bila belum tahu manfaatnya. Horatius mengatakan bahwa manfaat sastra itu berguna dan menyenangkan. Secara lebih jelas dapat dijelaskan sebagai berikut.

1.      Karya sastra dapat membawa pembaca terhibur  melalui berbagai kisahan yang disajikan pengarang mengenai kehidupan yang ditampilkan. Pembaca akan mendapatkan pengalaman batin dari berbagai tafsiran  terhadap kisah yang disajikan
2.      Karya sastra dapat memperkaya jiwa/emosi pembacanya melalui pengalaman hidup para tokoh dalam karya.
3.      Karya sastra dapat memperkaya pengetahuan intelektual pembaca dari gagasan, pemikiran, cita-cita, serta kehidupan masyarakat yang digambarkan dalam karya.
4.      Karya sastra mengandung unsur pendidikan. Di dalam karya sastra terdapat nilai-nilai tradisi budaya bangsa dari generasi ke generasi. Karya sastra dapat digunakan untuk menjadi sarana penyampaian ajaran-ajaran yang bermanfaat bagi pembacanya.
5.      Karya sastra dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan atau penelitian tentang keadaan sosial budaya masyarakat yang digambarkan dalam karya sastra tersebut dalam waktu tertentu.
B.     Peran Kita Untuk Melestarikan Kebudayaan atau Kesusastraan

Banyak contoh bahwa kesusastraan dan kebudayaan kita sudah mulai hilang akibat masukan dari budaya luar yang tidak kita filter  terlebih dahulu. Contohnya saja sastra lisan, sastra lisan merupakan fakta mental yang menggambarkan mimpi-mimpi, cita-cita, aspirasi, keinginan, harapan, keluh-kesah,dan sebagainya yang kesemuanya merupakan sistem  pengetahuan masyarakat. Masyarakat pemiliknya mentransmisikan sastra lisan dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, agar kandungan sastra lisan itu terintemalisasikan sebagai pedoman bagi hidup mereka dalam menyikapi tantangan kehidupan.

Kita mempunyai peran yang sangat penting untuk melestarikan budaya dan sastra yang kita punya dengan cara :
a.       Pemerintah:
1.      Pemerintah harus lebih memperkenalkan dan mempromosikan kebudayaan – kebudayaan bangsa   Indonesia ke negara – negara lain     lewat iklan di media-media elektronik maupun media cetak.
2.      Membuat pameran – pameran khusus untuk produk – produk dalam negeri saja.
3.      Membuat acara pergelaran kebudayaan Indonesia di negara sendiri maupun di negara lain.

b.      masyarakat
1.      Bisa menyaring budaya-budaya asing yang masuk dan ambil hal-hal positif yang bisa memajukan budaya dan sastra yang tinggi.
2.      Karena kita adalah generasi muda dan sebagai penerus bangsa, tanamkan rasa cinta kepada tanah air.
3.      Menerapkan meggunakan Bahasa Indonesia dalam kegiatan sehari-hari.
4.      Membawa bahasa dan budaya nasional menjadi bahasa dan budaya yang patut  menjadi salah satu bahasa dan budaya internasional.
5.      Orang tua juga berperan sangat penting memberikan pengarahan kepada anaknya tentang penrtingnya kebudayaan dan sastra yang ada di Indonesia.
6.      Saling menghormati dan menghargai antara sesama masyarakat walaupun berbeda agama dan suku bangsa.

Banyak sekali faktor-faktor yang menghambat usaha melestarikan kesusastraan dan kebudayaan. Hambatan-hambatan itu antaralain :
a.       Arus Globalisasi
Arus globalisasi yang menganut kebebasan dan keterbukaan begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat, terutama berpengaruh terhadap perilaku generasi muda.Hal ini ditunjukkan dalam cara hidup mereka sehari-hari. Misalnya, dari cara berpakaian mereka berdandan seperti selebriti yang cenderung ke budaya barat, menggunakan pakaian minim bahan, hingga memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak terlihat. Tentu saja hal tersebut tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.

b.      SDM Kurang Berkualitas
Upaya pelestarian budaya bangsa ditengah pesatnya arus globalisasi tentunya memerlukan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, kreatif dan inovatif, namun kurangnya keinginan dan sarana pembelajaran menjadikan ketersediaan SDM sangat terbatas.

c.       Orientasi Ekonomi Jatah Pendek
Keterbatasan biaya dalam pelestarian budaya masih menjadi hambatan yang cukup berat, penerpan teknologi maju memerlukan penanaman modal yang besar, menggandeng investor menjadi salah satu pilihan namun tidak sedikit investor yang tidak peduli dengan persoalan pelestarian budaya, yang penting bagi mereka modal yang telah ditanam harus cepat kembali dan mendatangkan keuntungan materi yang optimal.


d.      Keterbatasan Lingkungan
Penggunaan teknologi tidak hanya membutuhkan modal besar, namun juga membutuhkan sumber daya alamnya, hal tersebut tentu saja menimbulkan eksploitasi terhadap lingkungan, mempercepat proses global warming. Perubahan lingkungan alam yang sangat berpengaruh terhadap kebudayaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar